Showing posts with label Ardiyanti Sari. Show all posts
Showing posts with label Ardiyanti Sari. Show all posts

Sunday, November 14, 2010

Janji







"dulu, hampir saja aku cukupkan untuk tidak mengenal dia lebih jauh... tapi, untung saja dia itu kamu... jika bukan, takkan ada rindu yang tertahan dan sesak yang akhirnya juga kunikmati."
(Ardiyanti Sari, on her facebook status)

"i'd rather hurt my self, bukannya ini semua tentang pengorbanan? kalo ga ada yang dikorbankan, ayam juga ga pernah berkorban kalo cuma buat kawin. i do wanna be someone to fight for you!!! stop me if you can but i dont wanna give up now, i'll keep fight..."
(Ahméd Taufiq Rosidi, on Butuh Lebih dari Ini)




[janji yang telah ditagih, Subulussalam 9 November 2010]

Thursday, October 28, 2010

Melukis Hadirmu




aku melukis dirimu
di dinding hatiku
untuk mengganti sepi
ketidakhadiranmu di sini








[di kantor waktu bosen gambar peta padahal deadline tiga hari lagi, Subulussalam 29 Oktober 2010]

Bukan Sebatas Kata


Mungkin sekarang kamu yang udah gak mau peduli lagi ma aku, tapi aku peduli ma kamu, kalo kamu pikir aku nyerah sekarang, kamu salah. Kita udah sejauh ini, banyak janji yang mesti aku tepati. Aku belom nyerah, Ti'...!

empat hari sebelomnya___

Kita saling rindu dalam dunia kata, meski di luar ada dunia yang sebenarnya, dengan rona jingga di langit senja, juga pelangi selepas hujan basahi kaca jendela. Tapi ada juga jauhmu di sana. Aku lebih suka di sini dan terkucil berdua, di dunia kita. Di sini aku bisa memilikimu selama apa, memujamu dengan segala yang aku bisa, yang akan jadi titik kecilku untuk akhiri semua cerita.

[beberapa saat setelah aku berbuat ketololan sekali lagi, Subulussalam 18-22 Oktober 2010]

Orang Itu Masih Kamu


kalo kamu tanya aku, aku gak tau jawabnya. entah kita yang mesti mencari cinta, entah cinta yang akan datang menemukan kita, yang pasti aku percaya selalu ada cinta untuk kita semua. dan untukku, kamu...

*BBM profile picture of Anthy


[terinspirasi dari avatar BBM-nya Anthy waktu huru-hara itu sepuluh hari yang lalu, 29 Oktober 2010]

Thursday, October 21, 2010

She Sent Me Love





siang itu, selepas istirahat makan siang...

"Bang Topiq, sini bentar bang!"

"Kenapa?"

"Ada paket ni."

"Eh, dari sapa?"

"Biasa, prikitew!"


satpam itu nyodorin sesuatu dari bawah mejanya, kotak besar yang dibungkus plastik kresek item lengkap sama hiasan pita di atasnya. sesimpul senyum terkulum setelah aku liat nama pengirimnya, ini kedua kalinya dapet surprise dari dia.



"Ok, tengkyu ya."

"Mo kemana? buka sini aja lah!"

"Hasyah!"


buru-buru aku naik lantai dua, maklum penasaran. setelah sampe di mejaku langsung cari cutter kesana kemari tapi yang ada cuma gunting. gunting sini, gunting sana ahirnya kotak itu aku buka, dan isinya adalah, jeng... jeng...




lampu tidur, lihat tulisannya...


kue-kue kering, nah ini langsung laris dimakan se-Exten!!!


nah, yang ini rahasia. kebaca ga tulisannya?


udah kebaca kan?


pingin tau isinya apa? rahasia, hihihi


ini ni tulisan favoritku!!!"


"aku sayang kamu :)" persis di deket tulisan "no smoking"



"iya, aku ga pingin kamu ngerokok karena aku sayang kamu, bukan karena aku ga suka rokok." kata dia lewat telpon malemnya. makasih ya, aku juga sayang kamu kok... ^^

[di kantor sesaat sore menjelang, Subulussalam 19 Oktober 2010]

Wednesday, October 13, 2010

Maka Tenanglah...


#tenang adalah waktu renyah suaramu selalu bisa yakinkan aku untuk gak perlu risaukan jauhmu, dan memang hati gak kenal jarak bukan?

#tenang itu ketika aku dan kamu sama² melihat hujan dari jendela di belahan bumi berbeda dalam waktu yang sama tanpa aba². Entah bagaimana...

#tenang itu waktu rinduku-rindumu saling janji untuk bertemu dalam kencan rahasia tanpa ragu, saling cumbu...

#tenang adalah ketika aku minta kamu pada Tuhan dan mulutmu berbisik "amin" tanpa ragu²

#tenang adalah janji yang berulang dari malam untuk pagi bahwa besok masih ada cerita tentang "kita" yang harus dilanjutkan, maaf kalo aku terlalu cape sampe lupa benerin selimutmu tapi aku sayang kamu...

[celoteh twitter tengah malem buat Anthy, Subulussalam 12 Oktober 2010]

Sunday, October 3, 2010

Oktober


#Oktober ini kekasih, makasih udah bangunin aku sesaat September berahir... Maukah kamu merenda harapan, biar aku yang melukisnya dengan rona merah muda dari pipimu...

#Oktober kekasih, aku merasa ini akan jadi bulanku dan bulanmu. Seperti Juni, bukan September... Jangan tanya apa, aku tau aja, cuma itu. Ini konspirasiku dengan Tuhan.

#Oktober kekasih. Ah, tersenyumlah dulu. Aku butuh rona merah muda pipimu untuk melukis jembatan di antara hitamnya jelaga lautan jarak, jalanku menuju jauhmu.

#Oktober kekasih, di mana 13 dan 28 saling janji diam-diam untuk saling bertemu dalam satu kencan rahasia, saling senyawa dalam hitungan aritmetika paling sederhana menjadi hari² sebelum November menjemput.

#Oktober kekasih, yang datang mengendap bersama gerimis. Aku suka gerimis. Nanti kalo aku datang, akupun akan datang dengan gerimis, tolong tahan aku selama mungkin di beranda itu, semampumu dengan gerimismu sendiri dari pelupuk di sudut matamu.

#Oktober kekasih,
malam pertama awal bulan...
cuma aku & kamu tau
saling memeluk, saling berbisik,
antara riuh rendah gerimis di atap,
juga gerimis kita sendiri dari pori² kulit.
tolong jangan menjerit!
aku milikmu...
*janganpadamesum*

#Oktober kekasih, yang mulai bernyanyi
untuk kita mencumbu lagi
di sela² hari, di jeda² jemari
tetaplah di sini...
bersamaku, melukis pelangi
di langit² hati
selepas mendung September pergi

#Oktober kekasih.
13 + 28 - 10 = 31.
aku, kamu, apa lagi?
satu kata, cocok!

#Oktober ini kekasih, yang ke 22 untukmu dan ke 23 untukku. Pertama untuk kita, dan akan banyak lagi yang lainnya...

#Oktober ini kekasih, aku menunggu hari yang datang membawaku pada Januari untuk bisa lebih dekat denganmu lagi. Maaf, sekarang aku masih bertempur tapi aku pasti datang bebaskanmu dari genggaman jarak, bersama kita akan bunuh seluruh waktu. Satu persatu.

[kumpulan twit-ku yang agak telat di-posting karena masih bingung ini puisi apa bukan tapi yang penting Anthy suka нuнuнu :Þ, Subulussalam 1 Oktober 2010]

Hujan Minggu Pagi



Aku minta hujan temani saat aku memeluk ketidakhadiranmu di sini, saat bibirku saling sesap sendiri, dan lidahku kelu terkulum sepi. Dengan riuh rendah suaranya yang menari di atap juga di aspal jalanan. Kadang sempat terpikir untuk mencari di antara jeda ribuan hujan yang tempiasnya menerobos jendela kamarku yang sengaja kubuka kacanya, kalo² ada rindu yang ikut jatuh bersama mereka, rindu yang mungkin kamu titipkan pada awan mendung kelabu pagi ini. Tapi tidak! Semua temetes inilah tangis rindumu, biar aku mandi hujan sekarang. Jangan marah kalo aku jadi masuk angin... Kamu yang tanggung jawab! :)

[Minggu pagi dan gak bisa ke mana² karena ujan, Subulussalam 3 Oktober 2010]

Saturday, October 2, 2010

Mari Bicara 2


Kamu tau sayang? Ketakutan terbesarku bukan marah atau bencimu. Tapi diammu yang seolah aku bukan sesiapa, bukan apa. Aku tiada. Semacam tersesat di dunia tanpa dimensi, tanpa warna, tanpa suara, tak pernah ada. Ya, cuma aku dan terasingku. Bukannya aku tercekat dalam bisuku, aku bisa teriak selantang apa tanpa ada yang butuh dengar. Bukannya aku lumpuh dalam gemingku, aku bisa lari sekencang apa tapi entah aku beranjak. Aku cuma melayang-layang tanpa gravitasi.

Tapi tidak, mungkin aku bukan terjebak di dunia ketiadaan, aku yang hilang. Aku masih di sini bersamamu, bukan dunia yang tak berdimensi, aku yang tanpa materi. Warnaku yang meluruh, tiap partikel tubuhku tak tersentuh. Bahkan hembusan anginpun enggan berbelok demi aku. Tak dikenal, tak terlihat, tak dirasa, tanpa suara. Sepi sendiri, terbelenggu dalam diammu. Hampaku.

Bicaralah, demi Tuhan jangan diam. Jangan hapus aku, aku tak mau hilang. Seperti terkurung aku dengan dinding-dinding gelap kutuk beribu malam, bahkan suaramu dalam bayangpun kurindukan. Marahi aku, maki aku, hujat aku tapi tolong jangan diam. Aku butuh dengar suaramu, cuma itu.

[sekuel dari "Mari Bicara" dalam kalutku dengan prahara yang entah apa, Subulussalam 2 Oktober 2010]

Wednesday, September 29, 2010

Efek Pilek & Kangen


Dan sekarang luka kecil itu menjalar keluar meresapi tiap inchi hatiku, masuk ke pembuluh nadi dan terbawa laju darah, menyetubuhi otakku yang sejatinya tak pernah sepi akan bayangmu yang terus mengganda lagi dan lagi. Sampai ketika nanti kita bertemu kamupun akan terkejut dengan betapa banyak wajahmu yang aku bawa selama ini di kepalaku, yang kucipta sendiri karena jauhmu...

Ya, luka kecil itu masih ada, luka maha-dahsyat yang terus menggelitik di setiap jeda nafas. Tapi biarlah yang kecil itu aku simpan dan pelihara, yang akan terus ingatkan bahwa aku masih bisa merasa sakit oleh luka, bahwa aku masih punya alasan untuk tetap bernafas. Kamu...

Mungkin nanti kamu bakal marah karena sekarang aku masih juga belom tidur malah kirim ввм kayak gini. Tapi aku bisa apa? Kalo kamu mau tau, ada yang terus gangguin aku setiap aku coba buat terpejam, seperti ribuan kamu yang datang bertubi tanpa jeda dan tanpa beri aku waktu buat nolak. Pun kalo aku punya waktu, apa hatiku mau berkompromi buat nolak kamu? Aku kira gak, dan pasti itu jawabnya, harus "gak". Kata orang hati gak pernah bohong, tentang segala apa yang aku rasakan, aku tau benar. semacam rindu, merindumu...

[setelah berjam-jam coba tidur sambil terus menguap tapi tetep gak bisa merem, Subulussalam 21 September 2010]

Sunday, August 29, 2010

MatemaCinta...



I’m sure that I will always be
A lonely number like root three

The three is all that’s good and right,
Why must my three keep out of sight
Beneath the vicious square root sign,
I wish instead I were a nine

For nine could thwart this evil trick,
with just some quick arithmetic

I know I’ll never see the sun, as 1.7321
Such is my reality, a sad irrationality

When hark! What is this I see,
Another square root of a three

As quietly co-waltzing by,
Together now we multiply
To form a number we prefer,
Rejoicing as an integer

We break free from our mortal bonds
With the wave of magic wands

Our square root signs become unglued
Your love for me has been renewed

[ga tau judul aslinya yang jelas dari film "Harold and Kumar Escape from Guantanamo Bay" yang abis aku tonton, Purwodadi 8 September 2010]

Tuesday, August 17, 2010

Jawaban


"Cantik, kok belom tidur?!"

"Kangen kamu..."

"Hm...?"

"Ngantuk dan lelah tak cukup membuatku tertidur malam ini. Ada rasa yang jauh lebih mampu membuatku tetap terjaga. Rindu."

"Hm...gombal, sapa tuh yang ajarin?!"

"Kamu!"

"Aku lebih kangen."

"Seberapa kangen?!"

"Aku punya satu kepala dan ribuan kamu di dalamnya."

"Hm...cuma ribuan!"

"Ada sekitar 100.000.000 sel saraf neuron di otakku dan semua berteriak ingin deket kamu sekarang, kangen kamu banget..."

"Gombal, kok aku gak denger?"

"Pingin denger? Coba merem!"

"Mana, kok gak ada?"

"Mmmmuahhhhhh..."

"TOPIQQQQQ !!!"

"Mumpung belom imsak, wekk..."


[seperempat jam menjelang imsak terinspirasi dari status facebooknya Anthy, Subulussalam 18 Agustus 2010]

Saturday, August 14, 2010

Kuncianmu


Sudah selesai acara sahurnya pagi itu, sudah habis sendok terahir nasi di mulut, sudah tak ada lagi alasan dia berlama-lama di warung ujung gang rumahnya. Dia tidak merokok sehabis sahur.

"Langit dipenuhi barisan bintang pagi ini, kamu tau, Sayang? aku punya kata-kata untuk kusampaikan buat kamu sebanyak bintang-bintang di sana, cuma aja ga bakal cukup waktu. Atau sering lidahku tiba-tiba kelu lalu beku, aku yang membisu."

Pelan kakinya melangkah satu-satu, meninggalkan jejak-jejak sendal jepit murahan yang kentara di atas jalanan basah dan becek seperti sebuah cap. Seandainya boleh, pasti dia juga ingin membuat cap pada tubuh perempuannya. Sebuah tattoo yang bisa dibaca semua orang bahwa dialah satu-satunya pemilik perempuan itu,

"Aku kuncianmu. Tapi yang terjadi malah kebalik, kamu yang memiliki aku juga menguasaiku. Dan aku suka. Anti... Anti..."

Dia tersenyum sambil terus berjalan. Pulang.

[terinspirasi dari lagu "Kuncianmu - BIP", tweet-nya Clara Ng, dan Ardiyanti Sari menjelang sahur, Subulussalam 15 Agustus 2010]

Friday, August 13, 2010

Sebungkus Janji dan Rinai Hujan


"Mmmmuahhhhhh! Met tidur ya cantik, sleep tight..."

Dia membenarkan letak selimut di badan perempuannya dan menunggui di sampingnya, tepat di tempat terbaik di mana dia bisa melihat wajah itu yang makin ayu waktu terlelap. Penuh, Teduh. Dingin angin malam menerobos lembut, tembus dari celah ventilasi kamar, perlahan mengantar pikirannya mundur empat tahun lalu, ketika jarak kadang membiaskan rindu, dan rindu tetap menjadi sesak tertahan waktu. Ya, tiga tahun lalu saat semua terasa begitu indah dan manis, hingga kini. Janji-janji kecil itu terucap ringan seperti uap air yang keluar bersama hembusan nafas dan telah dia tepati sekarang, hampir semua. Besok akan dia tepati satu lagi dari sekian banyak janjinya dulu. Tak lama diapun ikut terlelap.

*sesaat sebelum itu___________________________m(!-.-)m__

"Sayang, kok pingin rujak ya?!"

"Ujan-ujan gini, sayang?"


Perempuannya mengangguk dengan wajah termanis yang membuat hatinya luluh. Kesekian kalinya. meski sebenarnya tanpa ekspresi itupun dia akan tetap keluar menerjang hujan. Rasa bangga yang membuatnya lupa dengan cape seharian di kantor, lupa dengan deras air yang belom berhenti sedari sore tadi, lupa dengan influensa yang membuatnya bersin-bersin dua hari ini. Bangga dan bahagia, cuma itu.

Setengah jam kira-kira dan deru mesin vespa tua terdengar memasuki garasi, dengan badan basah kuyup dia melangkah gontai, tangannya kosong, tak tampak bungkusan yang tadi diminta. Tak perlu terucap kata, wajah perempuannya seolah mengisyaratkan bahwa dia cukup paham kenapa dia pulang dengan tangan hampa,

"Gak ada yang jualan lagi, sayang."

"Gapapa kok, besok aja ya."

"Maaf ya, besok pasti dapet!"

"Tidur aja yukk, aku juga udah ngantuk banget, sayang."


[sebuah fiksi untuk Anthy di selepas buka puasa waktu aku lagi males :p traweh, Subulussalam 13 Agustus 2010]

Thursday, July 29, 2010

untitled


Subulussalam, 18 Juli 2010
malam itu dia coba untuk berbaring saat rasa linu mulai menggerayangi setiap persendian dan perih menyelinap dari luka-luka goresan kedua kakinya. ada sakit yang menyiksa di tendon paha kirinya, ada nyeri dari sisa air sungai di telinganya, dan begitu banyak asam laktat tertimbun, tapi juga ada sebentuk senyum terkulum ...sesaat,

"terimakasih Tuhan..."

lalu kedua matanya pun terpejam.

Subulussalam, 19 Juli 2010
...ada rasa yang datang mengendap-endap dalam gelap setelah bibirnya senyap tak berucap, menyelinap di antara rusuk-rusuk dan belikat lalu meresap dan mengancam harap, menambah sesak dada yang memang sudah sesak oleh rindu sejak tadi,

"Aku takut..."

Subulussalam, 20 Juli 2010
"ada paket nih, ke kantor kan?"

suara seorang pegawai kantornya yang tiba-tiba menelpon di tengah hangatnya sore waktu dia lagi dinas luar membuatnya penasaran tentang kejutan yang akan dia terima hari itu. demi rasa penasaran dia ahiri pendataan sore itu dan,

"Seperti dua orang aneh ini, hihihhi... Semoga selalu bisa bersama, Walaw masih dalam jarak Semoga selalu bisa tersenyum, Walau masih dalam jarak Dan selalu saling menyayang, Walau masih dalam jarak Terbentang lepas... Bersama menanti cahaya tiba Untuk saling beriring bukan digiring" -spasi- (Ardiyanti Sari)

senyum kecilnya terkembang setelah dia baca sebuah pesan singkat yang tertulis di kertas hitam itu, sebuah pesan yang terkirim bersama kejutan kecil yang begitu istimewa dari pengirim yang juga istimewa.



Subulussalam, 23 Juli 2010
awan mendung masih saja menggelayut manja di kolong langit kota itu sedari pagi, seolah hujan sore itu tak cukup tuntas dan ada yang tertahan. seperti embun di ujung dahan, rindu itu masih tertahan...

"terimakasih Tuhan, Kau berikan dia yang begitu indah untukku,"

dan lelaki itu tidur dengan senyuman.

Subulussalam, 26 Juli 2010
pagi itu udah jam enam waktu dia paksa mata sipitnya untuk kembali terbuka, dulu dia ga akan bisa bangun di waktu sepagi dan di dingin udara seperti itu. tapi itu dulu, hampi dua bulan lewat sampai cerita di antara mereka dimulai.

"coba kamu ada di sini, di pelukku, pasti aku makin males ngantor,"

bangkit dari balik selimut tebalnya menuju kamar mandi dan berwudlu. dingin angin yang mendesir sisa hujan subuh tadi makin membuat dia sesak akan rindu, akan jarak, akan perempuannya yang tadi membangunkan dengan telepon,

"dan kita jadi telat absen pastinya..."

Subulussalam, 27 Juli 2010
"Seorang temen pernah bilang daun yang jatuh tak pernah membenci angin... Ia akan membiarkannya begitu saja.. Tak melawan pusaran angin dan tarikan grafitasi.. Mengikhlaskan.. Kamu tau sayang? Itu yang aku rasakan sekarang, aku dekatimu dan biarkan hati ini jatuh, sekarang hati ini udah bener-bener jatuh dan aku relakan dadaku sesak akan rindu. Merindumu..."

[dari kumpulan status facebook gw, Purwodadi 8 September 2010]

Thursday, June 17, 2010

Rindu Ini Milikmu



Ada setangkup resah waktu pagi datang,

seperti embun di ujung dahan,
Ada rindu yang tertahan...

Pahit getir juga yang ahirnya menamparku dari ketermanguan

Dalam riuh rendah bisik subuh, aku merindunya
Dalam dingin beku pagi buta, aku merindunya

Sesederhana ini aku mencintai "dia",
Bukan seperti bulan purnama
Bukan seperti mawar setaman
Bukan itu semua...

Sederhana layaknya hembusan nafas,
Sederhana layaknya rintik hujan
Sederhana layaknya gelak tawa juga ratap tangis.


Rindu ini untukmu,
Ardiyanti Sari
Perempuanku...


Subulussalam-Makassar 15 Juni 2010

[ditulis setelah rindu itu terkirim bersama udara dini hari dua hari lalu dan masih sesak terasa kini, Subulussalam 17 Juni 2010]

Saturday, May 29, 2010

Obvious

walking through cryin rain...
i have no tears just something known as pain
deep here, but even i dont know
i'm enjoyin it so much, somehow...
i'm sick n very happy

then the middle of forrest stop me
when no one come to see
many many leafs layin on ground
i'm lookin for way home to found
i'm sick n very happy

this is place named heaven
nor just pain you given
force me sleep always n always
in everytime i open my eyes
in your smile i'm happy

are you only reason i created for
never say no anymore, no more
like leafs and flowers layin on ground
the way home to found
in your smile i'm happy




[ditulis sambil dengerin Oasis dini hari selepas "kamu" terlelap tidur, Subulussalam 30 Mei 2010]

Sunday, May 16, 2010

Senja Ujung Kota



matahari mulai turun bawa sinarnya mewarnai langit barat kota dengan rona indah kemerahan, ada beberapa gumpalan awan seolah mengiring semburat jingga surya senja tenggelam dengan anggun dan megah. ya, sore di kota itu, kota kecil yang sesaat menyambut malam dengan suara ayat-ayat yang indah tapi palsu, juga suara kicau burung yang juga palsu diputer dari tape-tape untuk memanggil burung-burung wallet pulang ke sarangnya, dan ruko-ruko yang juga palsu... Dia dan Lynn, gadis yang udah dianggep adiknya sendiri, masih duduk-duduk di teras selepas jogging sore itu,

"Lynn..."

"ya?"

"pernah ngerasa takut ga?"


Lynn menoleh, melihat mata lelaki di sampingnya. mungkin agak bingung dengan pertanyaan yang keluar dari obrolan semula, wajahnya basah oleh butir-butir keringat terlihat lebih serius sekarang, wajah polos gadis belia yang selalu haus pengakuan sebagai wanita dewasa. ada setetes keringat jatuh dari keningnya, meluncur di antara kedua mata yang begitu misterius...

"waktu temen kantor papah ke rumah, ngabarin papah kena stroke..."

"yang lain?"

"apa lagi ya? oya, waktu Padang gempa yang paling gede kemaren, Na nangis ketakutan waktu itu."


Lynn tersenyum kecil, mata bulatnya menerawang begitu jauh entah ke mana, seolah ada sesuatu di atas sana, di horison langit senja kota itu yang mulai dipenuhi ribuan burung wallet beranjak pulang berganti kelelawar-kelelawar yang keluar dari gulungan pupus-pupus daun pisang juga bambu yang berlubang untuk menjalankan perannya menjaga malam dalam skenario Tuhan yang telah dimainkan sejak berabad-abad lamanya...

"Kamu ga tanya aku?"

"tanya apa?"

"ya kayak itu tadi, Lynn..."

"idih, minta kok minta ditanya! minta emas kek, dijual kaya..."

"hm..."

"hehehe, iya deh... kalo Abang?"


lelaki yang dipanggil "Abang" itu tertunduk sejenak, Lynn ikut diam. suasana hening. hampir ga ada suara apapun kecuali sayup suara Adzan dari kejauhan yang terdengar mengambang seperti mantra pelindung yang dirapal, ga ada lagi hiruk-pikuk anak kecil yang tadi berlarian di sepanjang gang depan rumah, semuanya telah masuk ke dalam rumahnya demi menghargai Sang Senja yang dipercaya sebagai saat paling kritis sebagai konsekwensi goyahnya sebuah keseimbangan di mana intensitas sinar kosmik berkurang secara drastis di bumi akibat tenggelamnya matahari, juga waktu yang konon Sang Hyang Bathara Kala sering turun mencari tumbal-tumbal manusia di Marcapada, Arcapada, Terra, Bumi, atau entah apapun itu. sebagai seorang Jawa, Abang menghormati kaidah leluhurnya, juga Agama-nya mengkultuskan kumandang Adzan hingga berhenti dulu, sampe langit gelap sepenuhnya...

"dia..."

"kakak itu? kenapa bang?"

"kemaren aku bikin salah terus dia agak cuek, ga kayak biasa... kadang aku takut kalo dia lagi kayak gitu, takut kalo-kalo dia bosen sama aku..."

"takut kehilangan ya, Bang?"


Abang diam, Lynn-pun diam, bibirnya yang penuh seolah beku, mungkin ada sesal akan tanya yang terlanjur terucap, atau demi sekedar segan pada Abangnya, atau justru sudah ada jawabnya yang cukup dimengerti dan disimpan di hati masing-masing. Lynn tertunduk, ga ada lagi butir-butir keringat yang tadi menghias ujung hidungnya, semuanya telah menguap bersama angin sore yang bertiup hangat dan lembut membelai seisi kota juga riuh rendah emosi manusia di dalamnya. sejenak hening sampe Abang kembali bicara lagi,

"mungkin..."

[ditulis sehari abis ngobrol sama Lynn pas istirahat kantor, Subulussalam 17 Mei 2010]

Friday, May 14, 2010

Aku Rela...


1. Bulan Pucat (13 Mei 2010)

"makasih ya..."

"buat apa?"

"buat semuanya."

"Kamu kenapa sih?"

"pokoknya seneng aja!"

"kebahagiaan yang terlalu memuncak bisa melumpuhkan lo"

"kalo emang harus, aku rela... berutung banget aku punya Kamu."

"aku?"

"Kamu baik."

"orang lain yang baik juga banyak."

"tapi Kamu cuma satu..."


dan dia cuma tersenyum memandangi langit, gadis itu ikut memandang langit, cuma ada sinar bulan berpendar malu-malu di balik selimut awan tipis, tanpa bintang, tanpa bisik lirih angin malam, juga tanpa isyarat darinya yang membuat gadis itu cuma bisa meraba arti dari senyum lelakinya, atau mungkin justru itu isyaratnya? sebentuk senyum... bener-bener ga ada yang spesial malam itu, semua sama seperti malam sebelumnya. tapi ga buat dia, bahkan gadis itu juga ga tau pasti apa yang mebuat lelakinya begitu ceria, cukup baginya melihat senyum itu terkulum tanpa ingin tau lebih dalam. mereka masih duduk berdua sementara malam makin larut dan angin yang sedari tadi diam kini mulai bergerak meniup ujung-ujung padang ilalang, meniup sepinya malam, meniup emosi mereka berdua yang seolah menguap dan larut dengan suara-suara lirih dedaunan yang saling bergesek, juga nyanyian jangkrik-jangkrik jantan memanggil betinanya. gadis itu merebahkan kepalanya di bahu lelakinya...





2. Petang yang Terselundupkan (23 April 2010)

"Kamu lagi deket ma seseorang?"

dengan serpihan perasaan yang tersisa dia coba memandang dalam, jauh ke titik terdalam mata gadis di sampingnya. "iya" satu kata lalu bibir gadis itu terkunci, cuma ada debur ombak dan kebisuan di antara mereka. air laut membasahi kaki keduanya. "aku lagi deket dengan dia" gadis itu cuma bicara dengan hatinya karena lelaki di sampingnya juga tidak bertanya apa-apa lagi, seperti gadis itu, bibirnya terkunci. entah apa yang di pikirannya, entah bagaimana perasaannya, entah... sekali lagi debur ombak menghempas pantai, mengiring semburat jingga surya senja tenggelam dengan anggun dan megah di pinggir pantai yang lagi menyambut malam. mereka berdua diam...





3. Saat Lelaki Bicara (12 Mei 2010)

"Kamu yang lagi deket sama dia?"

"iya."

"Kamu serius kan sama dia?"

"aku serius."

"tolong jangan bikin dia kecewa, aku bahagia kalo dia bahagia. meskipun aku ga bisa sama dia, aku rela..."

"yang pasti aku sayang sama dia!"






4. Jargon (23 Mei 2010)

"tau gak? kayak jejak kita yang tertingal di pantai tadi hilang oleh ombak, aku cuma bisa bawa pasirnya lagi buat kamu, tulisan ini juga..."
(Ahméd Taufiq Rosidi)

"ada ikatan khusus antara penulis dengan tulisannya..."
(Ardiyanti Sari)

"ya, selalu."
(Ahméd Taufiq Rosidi)


[ditulis sambil nungguin ujan brenti waktu mo pulang ngantor dan BBM-an sama Anthy-ku, Subulussalam 14 Mei 2010 dan di-recovery ulang khusus buat dia selepas jargon itu dia ciptakan dan ditulis berulang di BBM & Facebook oleh orang-orang yang berbeda antara Makassar-Subulussalam-Medan-Makassar tanpa perlu tau gimana awalnya, 23 Mei 2010]

Friday, May 7, 2010

Kamu



seperti embun di ujung dahan,
ada rindu yang tertahan...


sebulan, mungkin lewat
hujan datang terlambat
seperti hatimu
tanah ini mengeras

setahun katamu?
kamu punya seluruh waktuku!

katakan, katakanlah
aku mau dengar bibirmu bilang iya
ah, bibir itu...

tunggu dulu?
kamu punya seluruh waktuku!

jika memang ku harus berpuisi
ajari aku puisimu
ajari aku memilikimu
jadi lelakimu

aku sayang kamu

teruslah bertanya,
ga akan ada jawabnya
aku, kamu, juga angin yang menderu

menghembus embun di ujung dahan,
ada rindu yang tertahan...
malaikat kecilku, bidadari penyelamatku, kamu...
kamu punya seluruh waktuku!

[ditulis selepas "kamu" ngalahin sombongku, Subulussalam 7 Mei 2010]